7 Jurus Jitu Pembelaaran Kreatif dan Menyenangkan

Mengapa perlu Great Teacher yang menguasai 7 skill ? Sebuah pertanyaan yang penting untuk dijawab sebelum kita masuk pada pembahasan mengenai apa saja jurus-jurus jitu untuk menjadi guru terbaik.

‘Ketika guru berhenti belajar, maka berhentilah mengajar’. Ungkapan ini penting menjadi sebuah perenungan,  sebab guru yang terbaik tidak hanya sibuk mengajar, tapi juga terus belajar. Semangat untuk terus belajar merupakan konsekuensi dari pekerjaannya yang harus selalu tampil kreatif dan menyenangkan.

Sayangnya, tak jarang guru terjebak hanya pada rutinitas mengajar dan lupa belajar. Akibatnya, ketika mengajar cenderung monoton, jenuh dan membosankan. Metode mengajar masih memakai cara konvensional, ada pula yang gagap terhaadap teknologi (gaptek).

Minimnya motivasi kurangnya kecintaan terhadap profesinya bisa jadi sebab lain hilangnya semangat kreatif guru. Mengeluh pada pekerjaan, minim kreasi, dan inovasi merupakan kendala yang dihadapi untuk menjadi Great Teacher. Maka agar menjadi great teacher yang mengajar kreatif dan menyenangkan perlu kiranya menguasai 7 jurus jitu mengajar kreatif dan menyenagkan. Adapun ketujuh jurus tersebut adalah :

  1. Great opening menentukan kelangsungan dalam proses pembelajaran selanjutnya. Ketika guru mampu membuka dengan baik (great), maka sesungguhnya guru sedang menyiapkan kondisi belajar siswa secara optimal. Siswa akan percaya kepada guru dan penuh kesediaan menyimak materi yang akan disampaikan.

Teori Apersepsi (Apperception) diperkenalkan oleh Johan Friedrich Herbart (1776-1841). Herbart adalah seorang psikolog, filsuf, dan juga seorang guru yang ahli berasal dari Jerman. Teori ini juga disibut teori Herbartisme, sebagaimana nama tokohnya.

Terdapat tiga landasan apersepsi yang perlu dipahami, yaitu: Pertama, manusia adalah mahluk pembelajar. Kedua, manusia memerintahkan dirinya sendiri, dan terakhir adalah stimulus.

Menurut Bobbi de Porter, apersepsi merupakan jembatan guru untuk masuk ke dunia siswa, yaitu dengan menjelaskan apa manfaat materi ini untuk mereka (ambak). Sedangkan dari sisi siswa adalah membentuk kemitraan agar siswa masuk ke dunia guru.

Langkah-langkah Apersepsi :

Pertama, salam dan sapa.  Mengucapkan salam dan menyapa para siswa  dengan hangat, tulus ,dan penuh semangat  memberikan Greeting Power dengan cara membuat suasana kelas menyenangkan, jika ingin membuat sussana kelas senang , maka guru harus berpikir senang dulu dalam dirinya dan kemudian memancar keseluruh siswa. Semakin tulus mengucapkannya  semakin kuat energi yang terpancar,  maka semakin besar pula kasih sayang yang diberikan kembali oleh siswa.

Kedua, , apresiasi dan doa. Mengapresiasi adalah bentuk penghargaan terhadap siswa. Mengapresiasi berarti memotivasi siswa agar menjadi lebih baik lagi. Dan doa adalah meniatkan proses belajar sebagai ibadah kepada Sang Pencipta.

Ketiga, building rapport. Adalah cara sederhana bagi seorang guru untuk membangun keakraban dengan siswa. Dimana guru menyamakan gelombang dan frekuensi dengan siswanya dengan cara masuk ke dunia siswa.

Keempat alfa zone, scene setting, pre teach dan warmer. Tahap ini guru berusaha menciptakan suasa yang kondusif bagi siswa untuk siap belajar. Ini adalah bagian dari apersepsi yang akan diuraikan secara jelas pada bagian berikutnya.

Kelima, manfaat dan harapan. Sebelum masuk pada materi, guru menggambarkan apa manfaat yang akan didapat dari pelajaran tersebut, sekaligus menggali apa yang menjadi harapan bersama siswa.

Bentuk-bentuk Apersepsi :

Berikut ini beberapa bentuk apersepsi, penjelasan singkat dan contohnya:

Alpha Zone

Dalam alpha zone, guru bisa menggunakan beberapa contoh berikut ini, antara lain: memulai kelas dengan fun story, ice beraking yang berkaitan dengan materi, brain gym, musik, bermain tebak-tebakan, games, quiz, dan sulap.

Pre Teach

Guru mengemukakan informasi pendahuluan materi pembelajaran. Penggunaan bentuk ini disesuaikan dengan strategi, SOP, agar fungsinya dapat memperlancar strategi. Beberapa contoh: vocabulary, tahapan prosedur, dan penggunaan laboratorium.

Warmer

Waramer terkait dengan pengulangan materi. Previous lesson ditamah dengan game akan menghasilkaan warmer. Berikut ini kreteria menggunakan warmer:  rehearsial, waktu singkat, tatap muka ke 2 dan seterusnya, game.

Scene Setting

Berkaitan dengan aktivitas. Yaitu pemberian pengalaman belajar kepada siswa. Bentuk ini dapat berfungsi sebagai pereduksi instruksi, membangun konsep pembelajaran, pembangkit minat siswa dan penasaran siswa. Penggunaan bentuk ini bersumber dari berbagai ide dan pola yang beragam.

Sumber-sumber Scene Setting :

Awali dengan cerita, Kutipan fakta dari TV, surat kabar atau internet Ajukan pertanyaan Kutip kalimat orang bijak. awali dengan bait lagu sesuai tema,  mulai dengan games atau kuis inspiratif, pantun khas

Kisah sukses, sedih yang berhubungan dengan tema, four Statement, analogi yang menohok Menghadirkan “Why?”. Maksud dan Tujuan, awali dengan Film, awali dengan gambar, demonstrasi yang berkaitan dengan materi, flash Card, pantomime, dampak/Efek dari materi yang diajarkan  anfaat dan Harapan bernyanyi brain Storming Checking Knowledge

  1. Variasi Metode

Metode pembelajaran merupakan cara-cara yang ditempuh guru untuk menciptakan situasi pengajaran yang menyenangkan. Dalam pembuatan metode, guru perlu untuk mempehatikan IHB, Aktivitas belajar, dan variasi metode. Semua unsur tesebut harus tersambung antara satu dengan lainnya.

Berikut ini beberapa contoh metode: Pertama, gambar visual (konsep, gambar visual, dan penjelasan gambar). Kedua, simulasi. Yaitu cara penyajian pengalaman belajar dengan menggunakan situasi tiruan untuk memahami tentang konsep, prinsip, atau  keterampilan tertentu.

Ketiga, sosio drama. Sebuah metode mengajar dengan mendemonstrasikan cara bertingkah laku dalam hubungan sosial. Keempat, wawancara. Metode ini melatih kecerdasan linguistik dengan cara mencari informasi spesifik dan mengindari topik yang tidak relevan. Kelima, mind mapping. Yaitu cara mudah menempatkan informasi ke dalam otak dan mengabilnya kembali. Keenam,  puisi. Metode ini dapat menumbuhkan sikap positif dalam proses pembelajaran.

  1. Review dan Great Closing :

Seperti pembukaan (opening), pada akhir kelas (closing) memiliki fungsi yang juga sangat penting. Siswa akan membawa pulang sesuatu yang disimpulkan pada akhir pembelajaran.

Setidaknya ada beberapa hal yang membuat review dan closing menjadi penting diperhatikan oleh guru, antara lain: Pertama, untuk menguatkan materi, sehingga siswa ingat apa yang telah dipelajari. Kedua, untuk memunculkan dorongan mempraktekkan ilmu yang sudah dipelajari. Ketiga, untuk menimbulkan kesan yang mendalam saat guru berpamitan. Mereview adalah cara untuk memperkuat dan mengulang penjelasan materi guru dengan melakukan frekuensi ‘jeda’ disetiap sub materi dan selalu menitikberatkan pada kata kunci materi pembelajaran.

Langkah-langkah menutup pembelajaran sebagai berikut: rangkumlah pesan utama, ringkas dengan pernyataan atau kutipan, ajaklah siswa untuk melakukan action (call to action), dan terakhir tutup dengan pamit indah, yaitu bisa menggunakan quote, lagu, film, deklarasi, atau muhasabah

Rangkum materi yang guru sampaikan dengan membuat benang merah antara semua bagian materi pelajaran. Kemudian guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengajajukan pertanyaan bila ada pembahasan yang belum dimengerti dengan baik. Langkah terakhir adalah guru mengecek pemahaman siswa dengan cara bertanya saat merangkum. Bila dibutuhkan, ajarkan kepada siswa teknik merangkung dengan mind mapping.

  1. Menguasai media pembelajaran berbasis information communication and technology (ICT) : merupakan sebuah keniscayaan bagi guru yang mengajar di era digital.Maka penguasaan media pembelajaran oleh guru dimaksudkan agar para guru mampu menggunakan media dalam proses pembelajaran, guru mampu mendesain slide powerpoint yang profesional, visual dan menyenangkanSelain membantu guru untuk memjelaskan materi pelajaran, siswa juga akan lebih mudah memahami pelajaran dan dapat menyimpan apa yang mereka terima di memori otak jangka panjangnya. Artinya mereka akan mengingat pelajaran lebih lama.

Selain menggunakan slide yang visual, penguasaan media pembelajaran juga mengenal istilah blended learning. Yaitu pembelajaran melalui konten yang disampaikan secara online. Misalnya: E-learning, quiz online, website online, Google Classroom, Podcast, dan sebagainya.

  1. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) merupakan siklus pertama dari proses pembelajran yang profesional. Pada tahap ini, guru membuat lesson plan di awal tahun pembelajaran. Kemudian memodifikasi dan mengevaluasi setiap selesai mengajar.

Isi RPP meilputi hal-hal sebagai berikut: Pertama, judul atau tema. Kedua, pendahuluan. Pada pendahuluan diperkenalkan topik atau tema, scene setting, alpha zone, dan building taport. Ketiga, isi atau inti materi. Isi harus disesuikan dengan tujuan pembelajaran, guru menjelaskan poin demi poin berikut dengan contoh, fakta, data, dan kejadian. Terakhir adalah penutup. Buat kesimpulan dan lakukan penekanan pada point pentingnya. Ajak siswa untuk action (call to action).

  1. Skill berkomunikasi merupakan kemampuan ‘creative delivery’ yang digunakan seorang guru dalam menyampaikan materi pembelajaran di dalam kelas. Sehingga materi pembelajaran dapat mudah dipahami oleh siswa selaku peserta didik.

Ada beberapa tipe komunikasi, misalnya intrapersonal. Pada tipe ini guru mampu bekomunikasi dengan dirinya sendiri, sehingga evaluasi dirinya dapat dilakukan dengan baik. Pada tipe komunikasi interpersonal, seorang guru hendaknya sanggup bersosialisasi dengan siswa dan guru lainnya. Komunikasi tipe ini merupakan komunikasi antar pribadi yang bertujuan bertukar ide atau gagasan.

Terakhir adalah tipe komunikasi publik. Tipe ini juga pada umumnya dikenal dengan public speakig, yaitu merupakan keterampilan berbicara di depan umum, sebagaimana seorang pembicara menyampaikan pesan atau gagasan yang kepada audiens. Secara umum, komunikasi dilakukan dengan dua cara, yaitu verbal dan non verbal, lebih lanjut, Dr. Albert Mehrabian, seorang professor Emeritus Psychologu, UCLA mengemukakan tiga ‘V’ dalam komunikasi berikut dengan persentase pengaruhnya, yaitu: verbal hanya 7 persen, vocal memberi pengaruh 38 persen, dan visual dengan persentase lebih tinggi yaitu 55 persen.

  1. Manajkmen Kelas

Mengapa perlu untuk melakukan menejemen kelas? Pertanyaan ini penting untuk dijawab agar para guru merasakan manfaat apa yang akan dirasakan ketika mampu menguasai kelas.

Pertama, manejemen kelas dapat menjadikan sukses dalam melakukan segala kegiatan pengelolaan kelas. Kedua, keadaan kelas akan menjadi lebih tertib, aman, damai dalam kegiatan belajar mengajar.Kuasai dan  Lakukan 7 jurus ini maka anda akan menjadi great teacher yang mengajar dengan kreati dan menyenagkan. Selamat mencoba !

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>